Langsung ke konten utama

Postingan

Api dan Organisasi

Hai. Apa kabar? Sehat terus ya, harus! Selamat datang buat kamu yang baru pertama kali baca tulisan aku. Dan, buat kamu yang udah pernah baca tulisanku yang lain, yaaap balik lagi di ruang penuh kata yang tak pernah terbaca, di Hafidhoh Asna’s blog. Kali ini aku mau nulis tentang suatu hal yang aku alami sejak bertahun-tahun lalu, sejak aku kelas 1 SMA sampai sekarang udah kuliah semester 3 akhir. Yakni tentang problematika organisasi, esensinya dan dampaknya jika kita benar-benar masuk ke organisasi tersebut. Menulis ini, aku bukanlah seseorang yang jago banget berorganisasi, bukan orang yang selalu sibuk tentang program-program kerja di organisasi dan bukan juga orang yang terlalu penting dalam sebuah organisasi. Sebenernya kata penting perlu digaris bawahi, sih, karena pada dasarnya semua pengurus punya peran yang signifikan dalam sebuah organisasi yang dia jalani. Jujur, sebenernya aku udah terlalu capek sama organisasi, terlalu muak dan terlalu malas untuk me...

Lo suka tapi lo gak bisa?!?

Gue tipe orang yang suka dikasi semangat, tipe orang yang suka dikasi masukan. Pernah ga si lo? Lo suka suatu hal, lo pengen jadi hal tersebut, tapi lo gak bisa, lo gak terlalu jago, bahkan lo gak ada bakat sama sekali. Lo ngelakuin itu, dan tiba-tiba suatu waktu lo ngerasa insecure sama diri lo sendiri gara-gara gak ada satu orang yang bantuin atau ngedorong lo buat nge- push kepengenan lo itu. Pernah? Sering? SAMA. Dukungan orang sekitar itu berpengaruh besar banget, asli. Contohnya dari SMP gue benci banget sama pelajaran fisika, padahal gue orangnya suka pelajaran eksak, tapi entah kenapa sama fisika bloon banget. Awalnya, karena guru, serius, gue ngerasa apa yang diterangin guru gue itu ga enak banget, ga bisa gue terima di otak, alhasil ulangan fisika pertama cuma dapet nilai 25, itu aja hasil mikir temen yang gue contek gara-gara gue ga bisa sama sekali. Karena kesan pertama kenal fisika udah jelek banget, kebawa sampe gue masuk SMA, gue tetep ga mudeng fis...

“SISA NAFAS”

-Sudut Pandang Aku, Pemeran Utama Pelaku Utama- Suara ayunan yang berdecit semakin menambah suasana sendu di taman ini, satu-satunya ayunan yang berpenghuni diantara ayunan-ayunan yang lain. Taman yang sepi dan matahari yang sudah dipenghujung barat tak membuatku untuk beranjak dan pulang. Kilauan mataku yang berbinar sudah dari tadi meredup, tergantikan oleh cairan bening yang mengalir membasahi kedua pipiku. Suatu penyesalan yang muncul dalam benakku, sehingga membuatku terdiam melamun memikirkan suatu hal, hal yang bisa membuat orang yang ku kasihi tak menyayangiku lagi. “Aku merindukanmu, kak. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu seperti dulu? Yang selalu ada untuk membuatku tertawa. Andai aku bisa mengatakan, pasti akan kukatakan dari dulu, tapi aku tak mau membuatmu cemas.” Lirihku disela kesenduanku. “Tiara!” Aku tersentak kaget ketika sebuah suara yang amat keras memanggil namaku dari belakang ayunan yang aku duduki, aku menoleh kaget ketika seorang pemuda sudah be...